Total Tayangan Halaman

Rabu, 01 Februari 2023

 "Untuk Gauri 😼"

Kurang lebih 4th kita bersama, aku ingat jelas saat kamu berumur 2th aku membawa kamu ke rumah setelah berbelas2 tahun aku tidak melihara kucing. Jujur memelihara mu adalah hal nekat yg aku lakukan bersama rendi, karna mama dan papa merasa keberatan memelihara kucing di rumah yg sempit. Sampai akhirnya kamu tumbuh di dalam keluarga ku dan kami semua menerima mu sebagai bagian anggota dari keluarga ini. Aku ingat jelas kamu pernah hilang, iya karna kamu ngejer kucing jalanan dan kamu lupa jalan pulang. kamu kesasar beberapa hari, aku nangis-nangis karna aku takut kamu diambil orang, sampai-sampai aku nempelin selebaran malam-malam bareng luluk, dan ajaibnya kamu ketemu. Ada yg lapor kalau kamu keliatan ngumpet di rumah kosong, nemuin kamu yg hilang adalah kesempatan ke-2 yg Allah kasih ke aku. Saat itu aku sangat bersyukur karna akhirnya kamu kembali ke rumah, kembali ke kami keluargamu. Menjelang masa kawin, kondisi kamu memburuk, itu pertama kalinya kamu sakit. Untuk pertama kalinya kita berobat dan dokter bilang kalau rahim mu infeksi, dan kamu harus operasi pengangkatan rahim (steril). Itu pertama kalinya kamu dirawat, rasanya campur aduk pada saat itu. Aku takut operasinya tidak berjalan dengan lancar. Tapi alhamdulillahnya Allah kasih aku kesempatan ke-3 untuk melihara kamu, sehabis itu semuanya berjalan dengan lancar, makanmu tambah banyak dan badanmu cepat mengendut. Sampai pada tgl 01 Feb 2023, dimana hari yg rasanya ingin aku skip. Seminggu sebelumnya kamu demam, aku pikir ini karna kamu masuk angin, karna papa memandikan mu tanpa mengeringkan sekering-keringnya. Biasanya kalau kamu mogok makan, kamu nggak pernah nolak kalau dikasi makanan kesukaan mu. Tiba2 kamu membaik tapi setelah itu kamu benar-benar nggak mau makan sama sekali, aku paksapun kamu bener-bener nolak. Ada hal aneh lainnya, kamu tidur digenangan air. Kamu tidur dikamar mandi, jelas-jelas kamu nggak suka sama kamar mandi karna bagimu kamar mandi sama dengan mandi. Sore sebelum berobat kamu ngeliatin aku berangkat kerja, aku sempet rekam kamu. nggak biasaya kamu bertingkah kayak gitu tapi waktu itu aku belum sadar. Pagi itu kamu masih bisa jalan, sore harinya kamu benar-benar lemas. Setelah sampai klinik dokter bilang kondisi mu kritis, suhu badanmu sangat rendah hanya 35 derajat. Sedangkan normalnya kucing 37 derajat. Dokter mendiagnosa kamu mengidap FIP, penyakit yg baru aku ketahui. Aku tidak percaya pada perkataan dokter, secara gejala-gejala yg kamu tunjukan tidak separah yg aku baca di google. Aku berpikir dokter salah diagnosa, aku akhirnya memutuskan untuk kamu dirawat inap agar kamu di infus, meninggalkan kamu dirumah sakit bukan pilihan mudah. Aku takut, apalagi ketika dokter bertanya "kamu ikhlas kalau-kalau kamu nerima kabar yg tidak enak?" aku jawab pertanyaan dokter dengan menangis, aku merasa gagal merawat kamu. Aku merasa aku terlalu menyepelan demam mu kemarin-kemarin. Malam hari aku tidak bisa tidur, karna takut kamu kenapa2, ke esokan harinya suhu badan mu tidak membaik. Aku putuskan untuk membawamu pulang karna aku berpikir rumah adalah tempat terbaik penyembuhan agar kamu tidak stres mendengar tangisan2 hewan lainnya yg sedang sakit juga. Aku menjemputmu dan melihat kondisimu tidak selemas kemarin dan kamu sudah bersuara, ada harapan yg amat besar pada saat itu, aku optimis kamu akan sembuh. Ke esokan harinya kamu sudah mau disuapi makan dan diberi obat, aku selalu berdoa agar diberi kesempatan lagi kepada Allah SWT. Aku chat orang rumah untuk mendapatkan kabar terbarumu, pulang kerja aku berencana untuk membeli vit yg disarankan banyak orang setelah aku baca2 yg nonton youtube dan juga memberikan snack favoritemu untuk menambah nafsu makanmu. Sampai rumah aku melihat mu masih lemas namun sudah bisa membalikan badan mengubah posisi tidur. Aku berencana sehabis sholat magrib aku akan memberi mu makan dan juga obat, kurang lebih 30mnt setelah sholat magrib. Aku melihatmu dikandang dalam keadaan sesak nafas dan lidahmu sedikit keluar, kamu sangat kesakitan tapi aku nggak tau bagian mana yg sakit. Aku pegang perutmu dan kamu memberikan respon kesakitan, aku tau masalah sakitnya ada di perut. Aku mamanaskan air hangat untuk mengompres perutmu. Tapi kamu makin lemas dan tak berdaya, aku putuskan untuk menyuapimu sediki demi sedikit karna aku ingin memberimu obat berharap obat dapat menghilangkan rasa sakit yg kamu rasakan saat itu. Kamu mau makan tapi kamu ngerasa kesakitan, obatpun masuk ke mulutmu. Tapi sesak nafasmu malah semakin menjadi, aku cuma bisa meluk kamu dan berdoa. Mata kamu ngeliat aku seolah mengisyaratkan minta tolong tapi aku nggak bisa apa2, aku bilang ke kamu kalau aku ikhlas kamu pergi asalkan kamu nggak sakit lagi. Setelah itu kamu kencing banyak banget dan muntahin semua makanan sama obat yg barusan aku suapin, lalu badan kamu bergetar hebat abis itu kepala kamu lansung lemes. Saat itu aku sadar kalau kamu udah nggak bernyawa, aku nangis karna nggak tau mau ngapain. Kamu pergi bener2 dipelukan aku, sampai sekarang aku masih trauma kalau inget2 kejadian kamu pergi. Aku juga mau minta tolong tapi aku bingung ke siapa, aku cuma bisa meluk kamu sambil nangis. Aku bersyukur kamu pergi tapi nunggu aku ada di rumah dulu, kamu sesayang itu yah sama aku? Jadi kamu pamit perginya begitu. Maafin aku yah kalau selama ini ngurus kamu aku belum totalitas, aku banyak kurangnya. Tapi aku tulus dan sayang banget sama kamu uri :( di dunia ini akan aku lakukuin apapun untuk bisa masuk surga dan nanti aku bakalan minta sama Allah SWT untuk ketemu dan kita bareng2 lagi ya uri. Tiap hari aku bakalan kangen sama kamu, nggak akan ada lagi yg nungguin aku pulang kerja dirumah, enggak ada lagi yg bisa aku peluk dan gendong2 di rumah, enggak ada lagi yg bisa aku jailin dan kerjer2 dirumah. Rumah bakalan sepi tanpa ada yg manggil2in nama kamu lagi, dan rumah enggak akan ada lagi ketukan mangkok untuk manggil kamu makan. Kami sekeluarga menyayangi uri, selamat jalan dan selamat tidur lelap 💓

Tidak ada komentar:

Posting Komentar